Senin, 18 Februari 2013

FPI Solo : Pemerintah Harus Bubarkan Densus 88..!!!

Front Pembela Islam Solo meminta pemerintah segera membubarkan pasukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri, karena mereka telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat dan bertindak brutal dalam menangani kasus terorisme.

"Densus 88 harus dibubarkan, karena di dalam negara sudah diatur undang-undang cara menangkap orang untuk proses hukum," kata Ketua FPI Solo, Khoirul Rus Suparjo, saat dihubungi di Solo, Senin.

Menurut dia, tindakan Densus terlalu brutal, tidak tranparan, karena orang yang baru terduga teroris saja sudah bisa langsung ditembak mati.
"Densus itu, menangkap seseorang tanpa prosedural yang benar. Siapa yang berani mengadili Densus yang menembak orang hingga mati itu," katanya.
Pada undang-undang negara sudah jelas aturannya, yakni mereka yang ditangkap harus melalui prosedur yang benar tidak boleh disiksa dan membunuh.

Ia menilai dengan adanya Densus justru akan menciptakan teroris-teroris baru di Indonesia. Hal ini berawal peristiwa dari Bom Bali beberapa tahun lalu, yang kemudian adanya pesanan asing. Densus kemudian diduga hingga sekarang banyak agenda yang direkayasa dengan membentuk opini.
Selain itu, pihaknya juga meminta pemerintah agar mencabut UU pembiayaan terorisme, karena hal itu dalam pasal-pasal sudah jelas karena umat Islam akan diteroriskan semua.

"Kami mencatat ada banyak pelanggaran dilakukan Densus. Ada sekitar tujuh orang yang tewas hingga sekarang tidak tahu-menahu. Mereka bukan termasuk teroris yang dituduhkan," kata Khoirul.
Sekretaris tim advokasi "The Islamic Study And Action Center" (ISAC) Solo, Endro Sudarsono, menjelaskan, pihaknya mendukung wacana dibubarkan Densus 88 Antiteror Mabes Polri, karena sejak dibentuknya pasukan itu, tindakannya selalu tidak manusiawi dan terjadi pelanggaran HAM berat.
Pihaknya berharap pemerintah termasuk Komisi III DPR RI untuk mewujudkan bahwa pasukan Densus 88 segera dievaluasi kinerjanya dan dibubarkan, karena programnya asing yang justru akan menurunkan repotasi bangsa.

"Densus itu, kadang belum tahu dia siapa, langsung ditangkapi dan dianiaya. Bahkan, mereka baru tersangka teroris langsung dibunuh," katanya.
Menurut dia, tindakan pembunuhan tanpa putusan pengadilan merupakan pelanggaran HAM berat. Sehingga, pihaknya menilai jika Densus dibuabarkan tidak ada lagi eksekusi mati di lapangan.
Kendati demikian, pihaknya mengimbau kepada masyarakat yang anggota keluarganya ditangkap atau disiksa atau ditembak oleh Densus segera diinformasikan ke publik atau lembaga Islam agar diketahui kebenarannya.

Jumat, 15 Februari 2013

Laskar FPI Sempat Cekcok dengan Orang yang Mengaku Polisi

Aksi sweeping yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) Bandung Raya sempat diwarnai cekcok antara laskar dengan orang yang mengaku polisi. Itu terjadi saat FPI melakukan sweeping ke rumah di Jalan Soekarno-Hatta.

Cekcok di halaman rumah itu bermula ketika laskar FPI meminta penjelasan pada pria yang mengaku pemilik rumah. Sebab di rumah itu ditemukan beberapa botol miras.

Saat pemilik rumah terus diberondong pertanyaan laskar, pria itu tiba-tiba pria berbicara dengan nada tinggi. "Hey, anda yang sopa dong," katanya.

"Siapa kamu?" tanya salah seorang laskar dengan nada tinggi. Pria yang memakai jaket hitam itu lalu mengaku polisi. Perbedatan sengit terjadi. Bahkan FPI menyebut pria itu sebagai backing sang pemilik rumah.

Mereka kemudian dilerai polisi berpakaian preman. Pria yang mengaku polisi sebagai polisi itu lalu pergi dari lokasi. Laskar lalu kembali memberondong sang pemilik rumah dengan pertanyaan.

Untuk menghindari cekcok panjang, polisi kemudian meminta semuanya dijelaskan di Mapolsek Babakan Ciparay yang kebetulan dekat dari lokasi.

Beberapa orang yang ada di dalam rumah kemudian dimintai keterangan di mapolsek. Sebanyak 13 wanita berpakaian seksi, beberapa botol miras, serta beberapa ekor ayam dibawa ke mapolsek untuk didata.

Wali Laskar FPI Bandung Raya Andri Ridwan berharap polisi menindak tegas orang yang mengaku polisi itu jika ia terbukti sebagai polisi.

"Dia ngakunya polisi, tapi enggak tahu dari polsek, polres, atau polda. Kita berharap orang itu ditindak, apalagi para pelaku maksiat," tegasnya.

Hb.Rizieq Syihab Sang Presiden Syariah

Habib Muhammad Rizieq Syihab bin Husein Shihab (Pimpinan Front Pembela Islam:FPI) lahir di Jakarta 24 Agustus 1965, ayahnya bernama Sayyid Husein Syihab (alm), dan ibunya bernama Syarifah Sidah Al-Attas. Rumahnya terletak di Jl. Petamburan III No. 83, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di ujung gang rumahnya terdapat sebuah took/warung usaha minyak wangi dan perlengkapan shalat kepunyaan Habib Rizieq.
Ayahnya Sayyid Husein (alm) bersama kawan-kawannya pada tahun 1937 mendirikan PAI atau Pandu Arab Indonesia. Sebuah perkumpulan kepanduan yang didirikan orang Indonesia berketurunan Arab yang berada di Jakarta, yang selanjutnya menjadi PII atau Pandu Islam Indonesia. Di dalam diri Habib Rizieq Syihab mengalir darah Arab dan juga Betawi, status sosial beliau juga sebagai keturunan Habib dan mengaku sebagai keturunan ke-38 Nabi Muhammad SAW. Sebutan lain dari Habib adalah Sayyid. Sayyid (jamak dari Sadah) adalah kata yang berasal dari bahasa arab, yang artinya tuan. Sharif (jamak dari Sharaf) yang artinya dihormati adalah sinonim dari Sayyid. Sayyid adalah gelar dan tertuju kepada seseorang atau kelompok. Gelar ini identik untuk laki-laki, untuk perempuan adalah Sayyidah atau Syarifah. Sayyid tertuju kepada orang arab, khususnya yang mengklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad melalui cuu Beliau, Husein (anak dari Fatimah Az-Zahrah dan Ali bin Thalib).
Beliau menikah pada 11 September 1987 dengan Syarifah Fadhlun yang masih berasal dari keluarga dan kalangan Habib. Dari hasil pernikahannya, Beliau dikarunia lima orang anak : Rufaidah Shihab, Humairah Shihab, Zulfa Shihab, Najwa Shihab, dan Mumtaz Shihab. Kelima anaknya disekolahkan di Jami’at Khair, dan juga didatangkan guru privat (ilmu agama dan umum).
Selain berjualan minyak wangi dan perlengkapan shalat, Habib Rizieq juga berdakwah dan mengajar di Jami’at Khair. Di rumahnya setiap malam Jum’at diadakan pengajian yang dimulai dari pukul 17.30 sampai 20.30, wirid yang dilafadzkan adalah Wirid al-Lathif dan Ratib Al-Haddad. Dua macam wirid ini populer di kalangan tarekat Haddadiyah , yang namanya diambil dari Sayyid atau Habib Abdullah al-Haddad, yang dinisbahkan kepada Imam Alawi bin Ubaidillah putra Imam Ahmad al-Muhajir yang dipandang sebagai founding father kaum Hadhrami, kelompok Sayyid yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Tarekat yang dianut oleh para Habaib adalah tarekat Alawiyyin/Alawiyyah, yang berasal dari kata Ba Lawi yaitu suatu marga yang berasal Sayyid Muhammad bin Alawi. Tarekat ini berbeda dengan tarekat lain pada umumnya, perbedaan itu dapat dilihat dari praktiknya yang tidak menekankan segi riyadhah (olah rohani) dan kezuhudan melainkan lebih menekankan kepada amal, akhlak, dan beberapa wirid serta dzikir ringan.
Dari perspektif sejarah, kelompok Sayyid yang sekarang ada di Indonesia berasal dari Hadramaut. Hadramaut adalah salah satu provinsi di Yaman Selatan. Pada tahun 1885, orang Hadramaut yang berada di Indonesia berjumlah 20.000 orang, 10.888 berada di Jawa dan Madura, dan 9.613 berada di pulau lain. Tahun 1905, orang Hadramaut bertambah menjadi 30.000 orang. 19.148 berada di Jawa dan Madura, dan 10.440 berada di pulau lain. Menjelang tahun 1934, sekitar 20 sampai 30 persen orang Hadramaut menetap di Hindia Belanda (Indonesia), Afrika Utara, dan negara-negara laut merah. Orang Hadramaut umumnya tinggal di sekitar pantai, kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Pekalongan, Semarang, dan Surabaya serta Palembang.

Riwayat Pendidikan
Pendidikannya sekolahnya dimulai di SDN 1 Petamburan, SMP 40 Pejompongan, SMP Kristen Bethel Petamburan Jakarta, SMAN 4 Gambir, dan SMA Islamic Village (Tangerang) sampai pada tahun 1982. Kemudian tahun 1983 kuliah di LIPIA selama setahun kemudian Habib mendapat beasiswa dari OKI untuk melanjutkan studi S1 di King Saud University, jurusan Dirasah Islamiyah, Fakultas Tarbiyah. Tahun 1990 Habib Rizieq berhasil menyelesaikan studinya dan sempat mengajar di sebuah SLA di Riyadh selama 1 tahun lalu kembali ke Indonesia pada tahun 1992. Beliau juga sempat melanjutkan studi program Master (S2) di Universitas Anta Bangsa, Malaysia namun hanya sampai 1 tahun dan Beliau kembali ke Indonesia untuk melanjutkan dakwahnya.

Karier Habib Rizieq Syihab
Selain mengisi pengajian-pengajian, Habib Rizieq juga pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Jami’at Khair sampai tahun 1996. Walaupun sudah tidak menjabat sebagai kepala sekolah, Beliau masih aktif mengajar di sekolah tersebut sebagai guru bidang fiqih atau ushul fiqh. Pengalaman organisasinya dimulai ketika Beliau menjadi anggota Jami’at Khair, ormas berbasis keturunan Arab dan Habib. Habib Rizieq juga pernah menjabat Dewan Syari’at BPRS At-Taqwa, Tangerang. Sebelum menjadi Ketua FPI, beliau pernah menjadi pimpinan atau pembina sejumlah majlis ta’lim se-Jabodetabek lalu dari mulai berdirinya FPI (tahun 1998) sampai 2002 menjabat sebagai Ketua Umum FPI, dan dari 2003 sampai sekarang menjabat sebagai Ketua Majelis Tanfidzi FPI.

Peran Habib Rizieq Dalam Tubuh FPI
FPI merupakan sebuah organisasi yang memiliki struktur. Adanya struktur menunjukkan bahwa hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya merupakan suatu ikatan atas-bawah secara hierarkis. Relasi atas-bawah itu berlangsung dalam sistem komando, dengan posisi puncak ditempati oleh Habib Rizieq. Selain sebagai pusat komando, Habib Rizieq juga merupakan sebagai pusat wacana. Ide dan gagasan yang berkembang dalam tubuh FPI berasal dari Habib Rizieq. Bagi kalangan pengikut FPI, buku Dialog Amar Ma’ruf Nahi Munkar bisa dikatakan sebagai kitab suci bagi kalangan pengikut FPI.
Posisi Habib Rizieq di posisi puncak komando dan wacana semakin kuat, hal ini dikarenakan adanya pencitraan positif terhadap dirinya dari para pengikut FPI tanpa disadari oleh diri Habib Rizieq sendiri. Pencitraan positif ini juga dikolerasikan dengan keimanan, pengetahuan, dan keberanian. Konsistensi (istiqamah) adalah refleksi keimanan; karya tulis, pendidikan tinggi, dan kedalaman ilmu adalah bukti keilmuan; tak gentar menghadapi tantangan dan resiko walau harus masuk penjara adalah bukti keberanian. Di mata pengikutnya, Habib Rizieq memiliki semua sifat dan citra positif ini.
Dalam kehidupan sehari-hari Habib Rizieq hidup sangat sederhana. Hal ini dapat dilihat dari rumah Beliau yang kecil dan berada di gang kecil, itu pun masih mengontrak. Mobil yang Beliau gunakan pun masih kredit atau cicilan, padahal Beliau sangat mungkin untuk hidup secara kaya dan mewah dari jaringan social dan posisi yang Beliau pegang. Namun semua itu ditolak oleh Habib Rizieq untuk menikmati itu semua dan lebih memilih hidup apa adanya sambil terus berjuang.
Pilihan hidup ini membuat dan mempertahankan kedekatan jarak sosial Habib Rizieq dengan para pengikutnya sehingga Beliau tetap berada dalam kelas sosial budaya dengan para pendukungnya. Dengan kata lain, pilihan Beliau untuk tetap hidup apa adanya menjaga Habib Rizieq berada dalam akar budaya dan sosial para pengikutnya.
Pencitraan positif ini telah menjadi bagian dari alat reproduksi pengaruhnya. Kenyataan lain yang membuat menguatnya citra positif Habib Rizieq di kalangan pengikutnya adalah adanya kedekatan Habib Rizieq dengan beberapa tokoh politik, pejabat, dan militer. Ada kebanggan di hati para pengikutnya ketika mereka tahu bahwa Habib Rizieq mempunyai relasi dengan Jendral Wiranto, Mayjen Jaja Suparman, Irjen Noegroho Djayusman, dan beberapa pejabat tinggi negara. Kebanggan ini telah memperkuat wibawa dan pengaruh Habib Rizieq.
Relasi kuasa di FPI terpusat pada satu orang atau satu tokoh, yaitu Habib Rizieq. Jika seseorang membicarakan FPI berarti orang tersebut juga sedang membicarakan Habib Rizieq, jika seseorang membicarakan Habib Rizieq berarti orang tersebut juga sedang membicarakan FPI. FPI merupakan transformasi dari Habib Rizieq, bisa dikatakan bahwa Habib Rizieq adalah FPI.
"Mohon Maaf Bila Ada kekurangan dan Kesalahan Informasi atas Biography Beliau''

Kamis, 14 Februari 2013

Habib Rizieq: Valentine’s Day Tradisi Orang Miskin Kasih Sayang

Euphoria Valentine’s Day yang digembar-gemborkan oleh tradisi barat dengan kedok hari kasih sayang ternyata telah menyebar luas dipenjuru dunia tidak terkecuali di Indonesia yang sangat suka dengan hal berbau barat, seolah bila tidak ikut budaya barat maka dianggap tidak modern. Banyak generasi muda ikut sibuk terhanyut dengan budaya ini. Apakah dengan ikut merayakan valentine, lalu kita menjadi orang barat? Padahal dalam tradisi ini, kita tidak ada kepentingan sama sekali, bahkan terkesan bodoh mengikuti suatu budaya yang tidak jelas asal-usulnya dan merugikan umat Islam.  
Harusnya kita lebih memahami, Valentine’s Day bukanlah hari pembuktian cinta, atau hari kasih sayang karena justru pada hari ini lah kebanyakan manusia yang mengatakan mereka melakukan aktivitas seperti free seks, zina, dan lainnya atas nama cinta, sedang menodai arti cinta itu sendiri. Bagaimana mungkin cinta diartikan hanya sebuah pemuasan nafsu belaka? Pemenuhan kebutuhan biologis saja? Dan bagaimana mungkin atas nama cinta semuanya boleh dan legal untuk dilakukan.

Berikut ini jawaban Habib Rizieq Syihab atas pertanyaan seorang mahasiswi UIN terkait Valentine’s Day :

1. Apa pandangan Habib tentang valentine?

Valentine tradisi kafir yang tidak baik dan tidak boleh ditiru atau diikuti oleh umat Islam, karena Valentine bukan sekedar hari kasih sayang, bahkan hari sex bebas atas nama kasih sayang. Fakta dalam praktek perayaannya seperti itu. Camkan !

Bicara tentang kasih sayang, lucu sekali dirayakan setahun sekali ??!! Itu tradisi orang yang miskin kasih sayang, sehingga stress mencari kasih sayang.

Ada pun dalam Islam, tiada hari tanpa kasih sayang, karena Islam adalah agama kasih sayang. Umat Islam tidak pernah kekurangan kasih sayang, karena mereka memiliki Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Penyayang, dan Nabi SAW yang diutus untuk menebar kasih sayang, serta agama yang berintikan kasih sayang, dan juga memiliki saudara sesama muslim yang wajib saling memberi kasih sayang setiap saat. Jadi, umat Islam itu tidak miskin kasih sayang.

2. Jika benar valentine adalah syiar agama nasrani, bagaimana seharusnya kita bersikap?

Setahu saya Valentine itu bukan Syiar Nashrani, tapi produk Freemasonry. Nashrani tidak mengajarkan free sex, tapi Freemasonry yang mengkampanyekan free sex. Freemasonry merusak semua umat beragama. Freemasonry adalah Dedengkotnya LIBERAL. Dengan demikian jelas bahwa merayakan Valentine bagi umat Islam hukumnya HARAM.

3. Sebagai generasi muda yang memiliki keingintahuan dan mencoba berbagai macam tradisi valentine, seperti memberi bunga atau coklat untuk orang yang dikasihi?

Sebagai generasi muda Islam, wajib selektif dalam berinteraksi dengan budaya atau tradisi apa pun. Jika bertentangan dengan Islam wajib ditolak, bukan dicoba !

4. Isu selanjutnya adalah valentine dapat mengikis jiwa nasionalis generasi muda karena dianggap sebagai budaya barat yang merugikan, bagaimana tanggapan Habib tentang hal tersebut? bukan kah kita bangsa yang dapat menerima perbedaan mengingat kita sendiri adalah bangsa yang terbentuk dari berbagai macam suku bangsa?

Valentine itu bukan hanya dapat mengikis jiwa kebangsaan, tapi juga mengikis aqidah dan merusak akhlaq. Valentine sebagai hari free sex atas nama kasih sayang adalah merupakan penyimpangan, bukan perbedaan, karena mana ada agama yang menghalalkan free sex ??!!  Kita toleransi terhadap perbedaan, tapi harus tegas terhadap penyimpangan, sehingga Valentine wajib ditolak oleh semua agama dan segenap anak bangsa Indonesia.

Sumber : www.fpi.or.id

Rabu, 13 Februari 2013

Bedah Buku "WAWASAN KEBANGSAAN MENUJU NKRI BERSYARIAH"

Meski dalam keadaan kurang sehat, ketua umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab menyempatkan hadir dalam acara bedah buku Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah. Buku yang dibedah tersebut merupakan tulisan beliau sendiri yang belum lama diterbitkan. Acara bedah buku tersebut diselenggarakan oleh Dapur Da'i Nusantara (DA'INA) dan DKM Masjid Baiturrahman dan berlangsung pada hari Ahad (10/2/2013) lalu di aula masjid Baiturrahman, Jakarta Selatan.

Dalam sambutannya, Habib Rizieq mengakui almarhum Pak Natsir sebagai salah satu tokoh bangsa yang mempengaruhi pemikirannya dalam berjuang menegakkan Syariat Islam. "Ada beberapa tokoh yang menjadi inspirasi bagi saya, almarhum Pak Natsir pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), walaupun tidak bertemu langsung namun tulisan-tulisan beliau menjadi santapan rutin bagi saya," ujar Habib.

"Selain almarhum Pak Natsir, almarhum Pak Husein Umar juga banyak menginspirasi saya, saya sering berdiskusi dengan beliau seputar wawasan kebangsaan. Dan tidak lupa, ketika "nyantren" di Salemba, saya juga sering dijenguk oleh almarhum Pak Hartono Marjono, dalam setiap pertemuan kita selalu diskusi tentang perjuangan syariah di Indonesia," cerita ketua umum FPI ini.

Habib Rizieq awalnya ragu dalam menulis tentang wawasan kebangsaan. "Semula saya tidak berani menulis tentang wawasan kebangsaan karena ini sesuatu yang sensitif, karena membahas seputar pancasila, UUD 45, bisa jadi menjadi salah persepsi bahkan bisa fitnah. Tapi banyak kawan-kawan yang mendorong agar isi ceramah dan diskusi tentang wawasan kebangsaan ini diwujudkan menjadi buku" katanya.

”Buku ini merupakan kumpulan tulisan dan pandangan-pandangan saya tentang berbagai hal mengenai Wawasan Kebangsaan yang pernah dimuat dalam tabloid Suara Islam. Atas dorongan beberapa teman-teman, seperti KH. Abdul Hamid Baidowi, KH. Muhammad al Khaththath, pak Munarman, pak Aru Syeif Assadullah dan lain-lain, kumpulan ceramah saya itu kemudian dituliskan dan dimuat di Suara Islam. Sesudah itu, karena sudah cukup banyak dan berbagai pertimbangan, lantas diterbitkan menjadi buku oleh Suara Islam Pers." tambah Habib.

Diakhir sambutannya, Habib Rizieq berharap dari acara bedah buku tersebut akan ada kritik saran yang membangun serta muncul ide dan pemikiran yang bisa menjadi bahan untuk menyempurnakan buku ini pada terbitan berikutnya.


Sumber : Suara islam.com

Habib Rizieq Luncurkan Buku Wawasan Kebangsaan Versi Islam

Dapur Da'i Nusantara (Da’ina) bekerjasama dengan Masjid Baiturrahman menggelar bedah buku "Wawasan Kebangsaan Menuju NKRI Bersyariah", karya Habib Rizieq Syihab,  Ahad, 10 Pebruari 2013 di Masjid Baiturrahman, Jakarta Selatan. Buku tulisan Ketua Umum FPI  itu memang menarik untuk dikaji, karena secara terminologi dan sudut pandangnya, buku itu berbeda dengan buku-buku tentang kebangsaan, keindonesiaan, NKRI, Pancasila, demokrasi maupun UUD 1945 selama ini.

Habib Rizieq Syihab meski dalam keadaan kurang sehat, menyempatkan hadir dalam acara tersebut dan memberikan  sambutan pengantar.

”Buku ini merupakan kumpulan tulisan dan pandangan-pandangan saya tentang berbagai hal mengenai Wawasan Kebangsaan yang pernah dimuat dalam tabloid Suara Islam. Dulu saya sering berdiskusi dengan almarhum Hussein Umar (Ketua Umum Dewan Da’wah-waktu itu). Dari diskusi itu, saya ceramah tentang Liberalisme, NKRI, dan berbagai isu tentang Wawasan Kebangsaan. Atas dorongan beberapa teman-teman, seperti Pak Munarman, Pak Aru Syeif, Ustadz Al-Khaththath, ceramah saya itu kemudian dituliskan dan dimuat di Suara Islam. Sesudah itu, karena sudah cukup banyak, lantas diterbitkan menjadi buku oleh Suara Islam Pers," ungkap Habib Rizieq.

Habib kemudian berharap dari acara bedah buku ini  akan muncul ide dan pemikiran yang bisa menjadi bahan untuk menyempurnakan buku ini pada terbitan berikutnya. Seusai memberi sambutan pengantar, Habib minta maaf tidak bisa mengikuiti acara sampai selesai karena harus berobat.

Acara yang dimoderatori Ketua Umum Da’ina, Masrur Anhar itu berlanjut dengan pembahasan buku. Hadir sebagai pembahas, Syarifin Maloko, SH, MM, (mubaligh, mantan anggota DPRD Jakarta), Habib Muhsin al-Attas (Ketua DPP FPI), dan Muhammad al-Khaththath (Sekjen FUI). Hakim Mahkamah Konstitusi, Dr. Hamdan Zoelva, yang direncanakan ikut membedah buku, berhalangan hadir.

Dalam pandangan Syarifin Maloko, kehidupan di Indonesia saat ini lebih dikuasai dan didikte asing, termasuk legislasi atau pembuatan undang-undang. Syarifin mengkritik pemerintahan SBY yang banyak dilanda korupsi dan inefisiensi. Lebih menukik, Syarifin yang pernah dipenjarakan Orde Baru menyoroti kehidupan umat Islam yang terkotak. “Terutama dibidang politik, tidak kompak dan mudah diadu domba”, ujarnya.

Pembahas berikutnya Habib Muhsin Al-Attas menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah ahsil perjuangan umat Islam. “NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) adalah ide cemerlang Mohammad Natsir melalui Mosi Integral”, ujarnya.

Habib Muhsin lantas  menguraikan sosok Habib Rizieq yang digambarkan mempunyai stamina juang luar biasa dalam memimpin Front Pembela Islam. 

“Habib Rizieq identik dengan FPI dan sebaliknya”, ujar Habib Muhsin yang juga menjadi salah satu Ketua FPI. Habib Muhsin menceritakan kemauan kuat Habib Rizieq dalam menegakkan ajaran Islam, meskipun pada masa-masa awal pendidikan Habib, pernah sekolah di SD dan SMP Bethel, Tanah Abang.

Habib Muhsin kemudian menjelaskan keterkaitan FPI dengan kehidupan politik di Indonesia. “Sampai saat ini masih menjadi kajian serius, apakah FPI akan membentuk partai politik atau tidak”, ujar Habib Muhsin. Dijelaskan, di dalam masyarakat berkembang perbedaan pendapat antara berjuang di dalam sistem atau di luar sistem.

Sementara M. Al-Khaththath (Sekjen FUI) sebagai pembahas terakhir menegaskan bahwa buku Habib Rizieq ini sangat penting dan sangat diperlukan bagi generasi muda Islam saat ini.

“Buku ini memberikan kita pandangan Islami tentang berbagai hal terkait Wawasan Kebangsaan yang selama ini didominasi pandangan-pandangan liberal. Buku ini bisa disebut Wawasan Kebangsaan Versi Islam”, ujar M. Al-Khaththath.

Sekjen FUI itu menjelaskan berbagai pertarungan nilai-nilai liberal dan Islam dalam masyarakat Indonesia saat ini. Termasuk upaya-upaya penggantian istilah-istilah bernuansa Islami. Misalnya sekarang digalakkan istilah parlemen, menggantikan MPR/DPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat, atau Dewan Perwakilan Rakyat).

Al-Khaththath menguraikan panjang lebar dinamika mensosialisasikan Syariat Islam  dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagaimana mengusung Capres Syariah. ”Beberapa elemen dan ormas Islam sudah oke, seperti MMI, GARIS, tinggal menunggu yang lain menyusul,” ujarnya.

Sesusainya pemaparan pembahas, giliran peserta memberi tanggapan dan masukan. Sekitar 500-an hadirin yang memenuhi aula Masjid Baiturrahman berebut ingin menyampaikan aspirasi,  pendapat, usulan, dan masukan. Suasana terasa seru ketika peserta bersemangat  menyampaikan  pertanyaan dan harapan-harapan, yang sesekali diiringi dengan gema takbir, “Allahu Akbar”.

Acara kemudian ditutup menjelang Dzuhur. Moderator Masrur dari Da’ina menegaskan acara-acara serupa dalam kaitan sosialisasi Syariat Islam akan terus digelar di berbagai tempat di masa-masa mendatang. 




Sumber : Suara-islam.com

Utusan Muslim Rohingya Kunjungi Markaz Besar FPI: Ajak Umat Islam Berjihad

Belum lama ini, Senin (11/2) Presiden Rohingya Solidarity Organization DR. Muhammad Yunus mengunjungi markaz Front Pembela Islam (FPI) di Petamburan III, Jakarta. Utusan muslim Rohingya itu diterima langsung oleh Ketua Umum FPI Habib Rizieq Syihab yang didampingi Sekjen Forum Umat Islam (FUI) KH. Muhammad Al-Khaththath, dan sejumlah pimpinan ormas Islam, diantaranya Ustadz Abu Jibril, KH. Ahmad Cholil Ridwan (Ponpes Al Husnayain), Ustadz Abu Haris (HASI), Jose Rizal (Mer-C) dan para jurnalis muslim yang tergabung dalam JITU (Jurnalis Islam Bersatu).

Di depan pimpinan ormas Islam, Dr. Muhammad Yunus  menceritakan ihwal kronologi dan perkembangan terkini Muslim Rohingya di Arakan, Myanmar. Hingga kini, pembunuhan demi pembunuhan masih berlangsung di Arakan tanpa tahu kapan bisa berhenti. Sekitar 100.000 rumah milik muslim Rohingya yang dibakar oleh pihak Budha.

“Sekarang ini sudah tidak ada lagi muslim di Arakan. Mereka semua habis dibantai. 2000 orang muslim Rohingya tewas tiap bulan,” tandas Presiden Rohingya Solidarity Organization DR. Muhammad Yunus.
Data jumlah dua ribu orang yang meninggal itu ada pihak muslim, baik yang masih berada di dalam Rohingya maupun di pengungsian. Bahkan sekitar 2000 muslim Rohingya juga meninggal di tahanan . “Ada sekitar 2000 org sedang ditahan. Sampai saat ini tidak diberi makan hingga meninggal,” katanya.
Yunus mencatat, ada 50.000 lebih pengungsi yang hijrah ke Bangladesh, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Rinciannya ada 17 camp pengungsi yang dipusatkan di Arakan. Kini, pedesaan-pedesaan di Rohingya sudah dikepung oleh tentara Myanmar dan budha fanatik. Orang-orang muslim sudah tidak bisa lagi keluar rumah, bahkan untuk makan sekalipun.

“Oleh sebab itu banyak yang meninggal dunia karena kurang makanan dan obat-obatan. Banyak saudara-saudara kita dari negara muslim membantu, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena pihak Budha menghalang-halangi,” akunya.

Pihak Budha bahkan mengancam NGO yang mengirimkan bantuan. DR. Muhammad Yunus mengatakan banyak sumbangan dari Palang Merah tidak sampai ke tangan mereka. Bahkan bantuan diberikan kepada pengungsi palsu. “Keadaan di Rohingya sangat menyedihkan, Partai Budha di Myanmar menghalangi bantuan. Pemerintah Myanmar tidak melakukan apa-apa,” tandasnya.
Valery Amos dari Perserikatan Bangsa-bangsa pung menyatakan keprihatinannya atas muslim Rohingnya di Arakan. Pemerintah Bangladesh secara diam-diam juga memberi bantuan kepada pengungsi.  Di Thailand, sekitar 1000 pengungsi sempat mendapat bantuan, tapi tidak berlangsung lama, hanya 6 bulan saja. Dan pengungsi itu telah dideportasi ke Myanmar.

“Banyak warga Muslim Arakan yang ambil resiko, untuk kabur ke Malaysia untuk mendapatkan bantuan. Tapi tak sedikit kapal yang mereka tumpangi tenggelam, karena kelebihan muatan,’ ujar Yunus.
Lebih lanjut Muhammad Yunus menceritakan, ada kelompok liberal yang memberi bantuan di Arakan, tapi bantuan itu disunat. Yang menyedihkan lagi, di perbatasan Thailand, terjadi praktek human trafficking. Setelah ditangkap, lalu dipulangkan kembali ke Myanmar.
“Cara yang paling efektif untuk membantu Muslim Rohingya adalah memberikan bantuan secara langsung ke pengungsi di kamp pengungsian. Atau melalui person to person utusan Muslim Arakan yang tinggal di Malaysia.”

Ajak Jihad
Apa yang bisa dilakukan oleh umat Islam di Indonesia untuk membantu penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar? Muhammad Yunus berharap, tetap dilakukan penggalangan bantuan kemanusiaan dalam bentuk obat-obatan, makanan, dan tempat tinggal. Selanjutnya, upaya diplomasi politik negara-negara islam  untuk menekan pemerintah Myanmar, dan tak kalah penting adalah adanya gerakan jihad di Myanmar. “Jihad sangat mungkin di Arakan. Semoga Allah menolong kita,” ungkap Yunus.
Dikatakan Jose Rizal dari Mer-C, sebetulnya sudah ada gerakan jihad disana, tapi jumlahnya sangat sedikit. Itulah sebabnya perlu dukungan dari kaum muslimin dimana pun berada. Kita tentu mengharapkan, ada sinergis dari faksi-faksi di Myanmar, karena ini memang sangat diharapkan pihak musuh untuk memecah belah persatuan umat Islam.